PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

21 06 2010



Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar

DESEASES NOTEBOOK

PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

Disusun Oleh:

Imam Muh. Luthfi Fathurrahman (A34080096)

Ciptadi Achmad Yusup (A34080097)

Aris Pracoyo (A34080098)

Dosen :

Tri Asmira Damayanti, Dr. Ir. MAgr.

Abjad Asih Nawangsih, Ir. MSi.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Tanaman Oryza sativa atau dikenal dengan nama padi di Indonesia merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno ini berasal dari dua benua, yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh, India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Secara lengkapnya, klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)

Sub Kingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas               : Liliopsida (Berkeping satu atau monokotil)

Sub Kelas        : Commelinidae

Ordo                : Poales

Famili              : Poaceae (Suku rumput-rumputan)

Genus              : Oryza

Spesies            : Oryza spp.

Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah Oryza sativa dengan dua sub spesies, yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah yang ditanam didataran rendah dan memerlukan penggenangan air. Tanaman padi mempunyai manfaat yang besar, yaitu sebagai bahan pangan pokok. Beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan Negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia. Selain itu jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tani.

PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

Seperti kebanyakan tanaman budidaya, padi memiliki gangguan-gangguan dalam proses budidayanya, yaitu berupa hama dan penyakit yang dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Diantara penyakit-penyakit yang umum ditemukan didalam budidaya tanaman padi diantaranya adalah:

PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (BACTERIAL LEAF BLIGHT)

Patogen Penyebab Penyakit

Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) atau Bacterial Leaf Blight (BLB) atau lebih dikenal oleh petani dengan nama penyakit Kresek, merupakan penyakit yang disebabkan oleh patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae. HDB merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit terjadi pada musim hujan atau musim kemarau yang basah, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang, dan dipupuk N tinggi (> 250 kg urea/ha).

Gejala Penyakit

Penyakit HDB menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur <30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah) (Gambar 1a). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu, dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas (lodoh). Sementara, hawar (Gambar 1b) merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan. Gejala diawali dengan timbulnya bercak abuabu (kekuningan) umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas, membentuk hawar (blight), dan akhirnya daun mengering. Dalam keaadaan lembab (terutama di pagi hari), kelompok bakteri, berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah ditemukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar. Dengan bantuan angin, gesekan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit HDB.

Kehilangan Hasil

Di Indonesia, luas penularan penyakit HDB pada tahun 2006 mencapai lebih dari 74 ribu ha, 61 ha di antaranya menyebabkan tanaman puso. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan luas penularan pada tahun 2005 yang baru mencapai 33,8 ribu ha. Data lima tahunan menunjukkan, puncak penularan HDB terjadi pada bulan Maret (rata-rata 5.832 ha) dan terendah pada November (rata-rata 636 ha). Kerusakan secara kuantitatif akibat penyakit ini adalah turunnya hasil panen dan rendahnya bobot 1.000 biji, sedangkan kerusakan secara kualitatif ditunjukkan oleh tidak sempurnanya pengisian gabah dan gabah mudah pecah pada saat digiling. Kerusakan sedang berkisar antara 10-20%, sementara kerusakan berat mencapai lebih dari 50%. Penurunan hasil padi akibat HDB umumnya berkisar antara 15-23%.

Gambar 1a. Gejala hawar pada pertanaman  Gambar 1b. Kresek yang terjadi pada padi berumur <30 hari (IRRI, 2007)                                          yang telah mencapai fase pemasakan

(IRRI, 2007)

Biologi Patogen

Sel bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) (gambar 1c) tumbuh dan berkembang biak sangat cepat. Pada awal pertumbuhannya, baik pada daun padi varietas tahan maupun rentan, dalam waktu 2-4 hari sel bakteri berkembang biak dari 10- 104 menjadi 107-108 sel/ml. Selanjutnya, perkembangan Xoo pada daun varietas tahan lebih lambat dibandingkan pada daun varietas rentan. Hal ini merupakan dampak dari ketahanan varietas terhadap perkembangan penyakit di lapangan. Proses pembentukan penyakit ditentukan oleh tiga komponen yang selalu berinteraksi, yaitu patogen, inang, dan lingkungan biotik dan abiotik. Masing-masing komponen dapat berubah sifatnya sehingga bila satu komponen berubah maka akan mempengaruhi tingkat keparahan penyakit. Contoh komponen inang yang dapat mempengaruhi tingkat penularan penyakit HDB adalah tanaman terlalu muda atau tua, tanaman sangat atau kurang tahan terhadap HDB, dan tanaman yang memperlihatkan keseragaman genetik dalam suatu areal yang luas. Contoh komponen patogen yang dapat mempengaruhi tingkat penularan adalah sifat avirulen atau virulen dari patogen, jumlahnya sedikit atau terlalu banyak, patogen dalam keadaan dorman atau aktif, dan penyebarannya yang didorong oleh air dan angin. Kondisi lingkungan mempengaruhi kedua komponen lainnya, baik pertumbuhan dan resistensi inang maupun kecepatan tumbuh atau memperbanyak diri dan tingkat virulensi patogen.

Bakteri Xoo mampu membentuk strain baru dengan cepat di lapangan sejalan dengan perkembangan penggunaan varietas padi. Perbedaan virulensi antara Xoo yang dikumpulkan dari beberapa daerah menunjukkan kedinamisan interaksi antara inang dan patogen, yang dapat dibedakan menjadi kelompok varietas diferensial di pihak inang dan kelompok strain di pihak patogen. Pengelompokan varietas diferensial di Indonesia mengikuti metode yang dikembangkan oleh Kozaka yang mempermudah penyesuaian kelompok strain. Berdasarkan metode Kozaka, Yamamoto dan kawan-kawan pada tahun 1997 berhasil mengelompokkan isolat Xoo di Indonesia. Sejak tahun 2000, Indonesia mengikuti pengelompokan strain berdasarkan varietas isogenik.

Gambar 1c. Sel Bakteri Xanthomonas spp. (Agrios, 2005)

Pada periode 1986-1990, kerusakan tanaman padi yang disebabkan oleh HDB terus meningkat, mencapai 76.740 ha. Puncak kerusakan tanaman terjadi pada tahun 1989 seluas 20.340 ha. Kerusakan ini sebagai akibat dari meluasnya pengembangan varietas IR64 yang rentan terhadap HDB. Pada saat dilepas pada tahun 1986, IR64 dinyatakan agak tahan HDB strain IV. Saat ini IR64 telah patah ketahanannya sehingga mudah tertular HDB. Perkembangan strain HDB di Indonesia disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Perkembangan Strain bakteri X. oryzae pv. oryzae dibeberapa daerah penghasil padi

Tahun Strain Daerah Penularan
1977

1980

1996/97

1997

1997/98

1998

1998/99

1999/2000

2000

2001

2009

II, III, IV, V

III, IV, V, VI, VIII

IV, VII, X

III, IV, VII, VIII

VIII, XII

VIII

V, VIII, X

III, IV, VIII

V, VI, VIII, X

III, IV, VIII

X

Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Kalimantan

Jawa Barat

Jawa Barat

Jawa Barat

Jawa Barat

Jawa Barat

Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta

Jawa Tengah

Jawa Barat

Jawa Barat

Sumber: IRRI

Siklus Penyakit

Penyakit HDB merupakan penyakit vaskular. Penyebaran penyakit ini melalui kontak fidik antara daun yang sehat dengan daun yang terinfeksi saat ada angin. Selain itu juga dapat melalui sisa daun yang dipotong saat pembibitan, dan melalui hidatoda. Lesio awal terjadi sekitar hari kesepuluh setelah proses inokulasi. Bakteri ini juga dapat terpencar melalui aliran irigasi dari lahan satu ke lahan lainnya. Patogen ini termasuk patogen tular tanah dan dapat bertahan didalam tanah selama 1-3 bulan saat tidak ada inang tergantung dari tingkat keasaman tanah tersebut. Tanah merupakan hal penting yang perlu diperhatikan untuk pencegahan penularan penyakit pada pertanaman selanjutnya.

Kondisi Lingkungan Pendukung

Proses pemencaran dan penularan penyakit HDB sangat dipengaruhi oleh angin dan air. Selain itu juga lingkungan yang lembab dan jarak tanam yang terlalu rapat juga mempermudah penularan penyakit ini. Penyakit ini banyak menyerang pada musim hujan atau musim kemarau yang basah. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan penyakit ini adalah areal pertanaman padi yang selalu tergenang dan dipupuk dengan N yang tinggi (>250 kg/ha.).

Pengendalian Penyakit

Untuk pengendalian penyakit ini, cara yang dianjurkan adalah dengan memanam varietas padi yang tahan penyakit HDB dan melakukan penanaman varietas berbeda secara bergilir. Selain itu pemupukan secara lengkap harus dilakukan karena pemupukan nitrogen yang berlebihan akan memperparah penyakit apabila tidak diimbangi pemupukan fosfor dan kalium. Kemudian dengan mengurangi kerusakan bibit dan penyebaran penyakit. Infeksi bibit terjadi melalui luka dan kerusakan bagian tanaman. Penanganan yang buruk atau angin kencang dan hujan dapat menyebabkan tanaman sakit. Penyakit menyebar melalui kontak langsung antara daun sehat dengan daun sakit melalui air dan angin. Untuk mengurangi penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan cara penanganan bibit secara baik saat  tanam pindah, pengairan dangkal pada persemaian, dan membuat drainase yang baik ketika genangan tinggi. Selain itu, pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah inokulum. Tunggul tanaman yang terinfeksi dan gulma dapat menjadi sumber inokulum. Pertahankan kebersihan sawah dengan membuang atau bajak gulma, jerami yang terinfeksi, ratun padi yang semuanya dapat menjadi sumber inokulum. Keringkan sawah dengan mengupayakan sawah bera mengering untuk membunuh bakteri yang mungkin bertahan dalam tanah atau sisa tanaman.

PENYAKIT BLAS (BLAST)

Patogen Penyebab Penyakit

Semula penyakit blas dikenal sebagai salah satu kendala utama pada padi gogo, tetapi sejak akhir 1980-an, penyakit ini juga sudah terdapat pada padi sawah beirigasi. Penyakit yang mampu menurunkan hasil yang sangat besar ini disebabkan oleh jamur patogen Pyricularia oryzae. P. oryzae merupakan cendawan yang berasal dari kelas Deuteromycetes. Cendawan ini memiliki konodia dan miselium hialin atau berwarna keabu-abuan.

Gejala Penyakit

Penyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun dan blas leher. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman, berbentuk belah ketupat, dengan pusat bercak berwarna putih (Gambar 2a). Sedang blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah (Gambar 2b). Setiap stadium pertumbuhan tanaman padi dapat diserang.

Kondisi Lingkungan Pendukung

Cuaca yang lembab, bahkan yang sangat kering dapat merangsang infeksi. Sebaiknya tanah yang cukup lembab, akibat dari adanya irigasi dapat menahan penularan. Padi huma mudah diserang bila cuaca cukup kering. Selain itu pemupukan dengan nitrogen (N) tinggi dapat meningkatkan resiko terkena penyakit ini.

Kehilangan Hasil

Penyakit blas ini merupakan salah satu penyakit yang penting pada tanaman padi. Penyakit ini dapat menghilangkan hasil sebanyak 50-90%.

Gambar 2a. Blas pada daun, bercak berbentuk belah ketupat (Agrios, 2005)
Gambar 2b. Blas pada leher (IRRI, 2007)

Biologi Patogen

Miselium cendawan ini memiliki septat, multinukleus, dan hifa hialin. Patogen ini memproduksi dua toksin, yaitu piricularin dan α-picolinic acid. Piricularin sangat stabil didalam air, terutama dalam keadaan asam. Piricularin dapat dinetralkan oleh asam chlorogenic dan asam ferulic. Keduanya merupakan senyawa fenolat yang dimiliki tanaman padi. Varietas padi yang memiliki tingkat asam chlorogenic dan asam ferulic tinggi memiliki kekebalan tinggi pula terhadap penyakit blas padi. Konidium cendawan ini berwarna abu-abu dan biasanya memiliki konidia dengan dua sekat (gambar 2c).

Gambar 2c. Konidia Pyricularia sp. (Agrios, 2005)

Siklus Penyakit

Sumber: www.arbvs.pt

Patogen penyebab blas merupakan patogen yang tular udara (air-borne). Sehingga penyebaran penyakit ini sangat bergantung pada angin yang bertiup. karena termasuk tular udara, konidia cendawan ini dilengkapi dengan semacam alat perekat. Pada saat konidia melekat pada permukaan daun, konidia berkecambah dan mengeluarkan apresorium untuk penetrasi atau masuk melalui stomata daun. Setelah menginfeksi, cendawan akan menghasilkan konidia pada saat tengah malam atau pagi hari.

Pengendalian Penyakit

Kemampuan patogen membentuk strain dengan cepat menyebabkan pengendalian penyakit ini sangat sulit. Penyakit ini dikendalikan melalui penanaman varietas tahan secara bergantian untuk mengantisipasi perubahan ras blas yang sangat cepat dan pemupukan NPK yang tepat. Penanaman dalam waktu yang tepat serta perlakuan benih dapat pula diupayakan. Bila diperlukan pakai fungisida yag berbahan aktif metil tiofanat, fosdifen, atau kasugamisin. Usaha preventif yang sangat ketat dapat menghindarkan adanya serangan massal P. oryzae. Di jepang cendawan ini dapat diatasi dengan menaburkan serbuk zat “air raksa” 30-40 kg untuk tiap ha. Serbuk air raksa ini mengandung zat air raksa 0,15-0,25 %.

Selain itu, pengendalian blas juga dapat memanfaatkan agensi hayati dengan cara dimulai dari perlakuan benih, perendaman bakteri Antagonis Coryne bacterium pada padi. Sedangkan pada tanaman hortikultura dengan penggunaan Pseudomanas flourencens. Penggunaan seluruh bahan–bahan yang dikembangkan laboratorium PHP tersebut diyakini aman lingkungan dan produksi bebas pestisida sehingga memenuhi standart permintaan pasar.

PENYAKIT HAWAR PELEPAH (SHEATH BLIGHT)

Patogen Penyebab Penyakit

Hawar pelepah, merupakan penyakit penting pada tanaman padi. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani. Penyakit ini merusak pelepah, sehingga untuk menemukan dan mengenali penyakit, perlu dibuka kanopi pertanaman. Penyakit menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah, makin awal terjadi kerebahan, makin besar kehilangan yang diakibatkannya. Penyakit ini menyebabkan gabah kurang terisi penuh atau bahkan hampa. Hawar pelepah terjadi umumnya saat tanaman mulai membentuk anakan sampai menjelang panen. Namun demikian, penyakit ini juga dapat terjadi pada tanaman muda (Gambar 3a).

Gejala Penyakit

Gejala awal berupa bercak oval atau bulat berwarna putih pucat pada pelepah (Gambar 3b). Dalam keadaan yang menguntungkan (lembab), penyakit dapat mencapai daun bendera. Patogen bertahan hidup dan menyebar dengan bantuan struktur tahan yang disebut sklerotium.

Gambar 3b. Gejala hawar pelepah daun yaitu bercak keabuan berbentuk oval memanjang atau elips diantara permukaan air dan daun (IRRI, 2007)

Gambar 3a. Hawar pelepah yang

menyerang tanaman muda (IRRI, 2007)

Biologi Patogen

Rhizoctonia sp. merupakan cendawan patogen yang berasal dari kelas Basidiomycetes. Cendawan ini memiliki miselia steril dan hialin saat muda, namun berwarna kekuningan seiring pertumbuhannya. Cendawan ini memiliki sklerotium yang kecil. Rhizoctonia sp. merupakan patogen tular tanah dan dapat membentuk struktur dorman saat tidak ada inang.

Gambar 3d. Akibat serangan penyakit hawar pelepah     (Agrios, 2005)
Gambar 3c. Miselium cendawan Rhizoctonia sp. (Agrios, 2005)

Siklus Penyakit

Patogen ini termasuk patogen tular tanah pada tanaman parennial. Selain itu juga penularan patogen ini dapat melalui bagian-bagian tanaman yang terpendam didalam tanah. Benih juga dapat menjadi sarana bagi penularan patogen ini. Pemencaran patogen ini dapat terjadi dengan bantuan air hujan, aliran irigasi atau pada saat banjir. penggunaan alat-alat pertanian yang dapat terkontaminasi patogen ini dari tanah juga merupakan sarana pemencaran yang umum terjadi.

Kondisi Lingkungan Pendukung

Kebanyakan ras cendawan ini tumbuh optimum pada suhu 15 sampai 18o C, tetapi beberapa ras hidup optimum pada suhu lebih tinggi yaitu sekitar 35o C. Cendawan ini lebih banyak ditemukan pada keadaan tanah yang lembab, sedangkan pada tanah yang basah atau tergenang ditemukan sedikit. Selain itu adanya hujan disertai angin kencang dapat mempercepat penularan penyakit ini. Infeksi pada fase pertumbuhan menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat.

Pengendalian Penyakit

Penyakit ini sangat sulit dikendalikan karena patogen bersifat poliphag (memiliki kisaran inang yang sangat luas). Pemupukan tanaman dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha dapat menekan perkembangan penyakit ini. Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan pengaturan jarak pertanaman di lapang agar jangan terlalu rapat, keringkan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum, bajak yang dalam untuk mengubur sisa-sisa tanaman yang terinfeksi, merotasi tanaman dengan kacang-kacangan untuk menurunkan serangan penyakit, membuang gulma dan tanaman yang sakit dari sawah, gunakan fungisida (bila diperlukan) antara lain yang berbahan aktif heksakonazol, karbendazim, tebukanazol, belerang, flutalonil, difenokonazol, propikonazol, atau validamisin A.

PENYAKIT BUSUK BATANG (STEM ROT)

Patogen Penyebab Penyakit

Busuk batang merupakan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman dalam kanopi dan menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah. Penyakit ini disebabkan oleh patogen Helminthosporium sigmoideum. Untuk mengamati penyakit ini, kanopi pertanaman perlu dibuka. Perlu diwaspadai apabila terjadi kerebahan pada pertanaman, tanpa sebelumnya terjadi hujan atau hujan dengan angin yang kencang.

Gejala Penyakit

Gejala awal berupa bercak berwarna kehitaman, bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar (Gambar 4a). Akhirnya, cendawan menembus batang padi yang kemudian menjadi lemah, anakan mati, dan akibatnya tanaman rebah (Gambar 4b).

Gambar 4b. Gejala busuk batang pada anakan mengakibatkan tanaman rebah (IRRI, 2007)
Gambar 4a. Bercak kehitaman pada sisi luar pelepah daun akibat infeksi busuk batang (IRRI, 2007)

Kehilangan Hasil

Penyakit busuk batang merupakan salah satu penyakit utama padi di Indonesia.  Penyakit ini selalu ditemukan pada setiap musim tanam dengan kategori infeksi ringan sampai sedang. Pada musim hujan, lebih dari 60% tanaman padi di jalur pantura Jawa Barat mengalami kerebahan akibat diinfeksi cendawan H. Sigmoideum.  Kerebahan menyebabkan persentase gabah hampa meningkat.  Kehilangan hasil padi akibat penyakit busuk batang 25-30%.

Biologi Patogen

Cendawan penyebab busuk batang (Helminthosporium sigmoideum) (gambar 4c) menghasilkan sklerotia yang berbentuk bulat kecil berwarna hitam.  Sklerotia banyak terdapat pada bagian dalam batang padi yang membusuk. Selama kondisi lingkungan kurang menguntungkan, cendawan menghasilkan sklerotia secara berlimpah  sebagai alat untuk bertahan hidup.  Sklerotia tersimpan dalam tunggul dan jerami sisa panen. Selama pengolahan tanah sklerotia tersebut dapat tersebar ke seluruh petakan sawah dan menjadi inokulum awal penyakit busuk batang pada musim tanam berikutnya.

Gambar 4c. Cendawan Helminthosporium sigmoideum

(IRRI, 2007)

Siklus Penyakit

Patogen penyebab busuk batang bertahan didalam tanah saat tidah ada inang dengan membentuk sklerotia. Sklerotia tersebut diproduksi didalam sisa-sisa tanaman yang tertinggal diareal pertanaman dan didesiminasikan oleh air irigasi atau air hujan. Penyakit bertambah saat tanaman dipupuk nitrogen tinggi. Selain itu juga penyemprotan dengan herbisida yang tinggi dapat memperparah tingkat infeksi penyakit ini.

Kondisi Lingkungan Pendukung

Busuk batang ditemukan lebih parah pada varietas padi beranakan banyak yang ditanam pada lokasi kahat kalium serta berdrainase jelek. Umumnya penyakit ini kurang mendapat perhatian, karena dianggap sebagai gangguan yang bersifat klasik dan biasa-biasa saja. Cendawan penyebab penyakit busuk batang menembus bagian dalam pelepah  dan menginfeksi batang sehingga menyebabkan busuk pada batang dan pelepah.

Pengendalian Penyakit

Stadia tanaman yang paling rentan adalah pada fase anakan sampai stadia matang susu. Kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 80%. Pemupukan tanaman dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha dapat menekan perkembangan penyakit. Untuk mengurangi penyebaran lebih luas lagi, keringkan tanaman sampai saat panen tiba. Cara pencegahan penyakit ini antara lain adalah dengan membakar tunggul-tunggul padi sesudah panen atau didekomposisi, mengeringkan petakan dan biarkan tanah sampai retak sebelum diari kembali gunakan pemupukan berimbang, melakukan pemupukan nitrogen sesuai anjuran dan pemupukan kalium cenderung dapat menurunkan infeksi penyakit, menggunakan fungisida (bila diperlukan) yang berbahan aktif belerang atau difenokonazol.

PENYAKIT TUNGRO

Patogen Penyebab Penyakit

Tungro (Gambar 5a) merupakan salah satu penyakit penting pada padi sangat merusak dan tersebar luas. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Tungro Padi (VTP). Di Indonesia, semula penyakit ini hanya terbatas di Sulawesi Selatan, tetapi sejak awal tahun 1980-an menyebar ke Bali, Jawa Timur, dan sekarang sudah menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kehilangan Hasil

Bergantung pada saat tanaman terinfeksi, tungro dapat menyebabkan kehilangan hasil 5-70%. Makin awal tanaman terinfeksi tungro, makin besar kehilangan hasil yang ditimbulkannya.

Gejala Penyakit

Gejala serangan tungro yang menonjol adalah perubahan warna daun (Gambar 5b) dan tanaman tumbuh kerdil. Warna daun tanaman sakit bervariasi dari sedikit menguning sampai jingga. Tingkat kekerdilan tanaman juga bervariasi dari sedikit kerdil sampai sangat kerdil. Gejala khas ini ditentukan oleh tingkat ketahanan varietas, kondisi lingkungan, dan fase tumbuh saat tanaman terinfeksi.

Gambar 5a Tanaman yang terinfeksi tungro tumbuh kerdil. (IRRI, 2007)
Gambar 5b Daun mengalami perubahan warna menjadi kuning dimulai dari ujung daun-daun tua (IRRI, 2007)

Siklus Penyakit

Penyakit tungro disebabkan oleh virus tungro padi (VTP). Sebagaimana diketahui bahwa virus merupakan patogen yang termasuk parasit obligat, sehingga virus tidak dapat hidup diluar tubuh inangnya. Siklus penyakit tungro sangat bergantung dari serangga vektornya yaitu wereng hijau (Nephotettix spp.) (gambar 5c). Virus tungro dapat bertahan selama lima hari didalam tubuh vektornya, lebih dari itu serangga tidak berpotensi menularkan. Sama halnya dengan serangga yang telah ganti kulit tidak berpotensi menularkan virus tungro.

Gambar 5c. Wereng hijau yang menjadi vektor virus tungro

(Agrios, 2005)

Gambar 5d. Partikel virus tungro: RNA virus rice tungro spherical virus (RTSV) dan DNA virus rice tungro bacilliform virus (RTBV) (Agrios, 2005)

Keadaan Lingkungan Pendukung

Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan VTP dan serangga penular yaitu curah hujan, temperatur dan teknologi modern. Oleh karena itu populasi serangga penular dan intensitas serangan penyakit tungro bervariasi dari bulan kebulan dan dari musim kemusim. Curah hujan yang tinggi berpengaruh langsung terhadap aktivitas serangga, sedangkan meningkatnya kelembaban udara memacu perkembangan jamur pathogen untuk tumbuh lebih baik pada tubuh serangga, hal ini dapat menghambat perkembangan serangga. Teknologi modern yang diterapkan oleh manusia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ekosistim sawah.

Cara bercocok tanam varietas, pemupukan, pengairan dan penggunaan pestisida merupakan hal-hal yang panting dalam hubungannya dengan pertumbuhan populasi serangga penular. Varietas rentan, penanaman padi terus menerus dan tidak serempak, pemupukan nitrogen yang berat dan tidak seimbang serta pengairan yang baik, akan memberi kondisi lingkungan yang cukup baik dan menguntungkan terhadap pertumbuhan populasi wereng padi. Penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat menimbulkan pengaruh samping negatif seperti resistensi, resurgensi timbulnya hama sekunder dan atau hams baru serta keracunan pada manusia dan hewan bukan sasaran.

Pengendalian Terpadu Penyakit tungro

Pengendalian penyakit tungro dilakukan secara dini (tanaman muda peka) dengan menerapkan sistem pengendalian penyakit secara terpadu, yaitu eradikasi sumber infeksi (tanaman sakit, singgang, voluntir dan rumput-rumputan inang), penggunaan varietas tahan, budi daya tanaman sehat dan pengendalian serangga penular.

Strategi pengendalian yang direkomendasikan bergantung pada ekosistem, antara lain mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi pola fluktuasi kerapatan vektor (migrasi atau peran musuh alami), sumber inokulum (luas, intensitas, stadia tanaman, varietas, inang selain padi dan spesies wereng hijau), serta faktor lingkungan abiotik (musim) dan biotik (pola tanam). Budi daya tanaman sehat dianjurkan dengan menerapkan PTT yang mensinergikan komponen pengelolaan lahan, air, tanaman dan OPT. Komponen budi daya utama dalam PTT seperti pemberian pemupukan berimbang berdasarkan pengelolaan hara spesifik lokasi dan irigasi berseling akan memperbaiki vigor tanaman di samping menghambat perkembangan hama-penyakit, selain itu dengan pemberian bahan organik akan meningkatkan arthropoda netral yang menjadi mangsa musuh alami (pemangsa).

Pengendalian serangga penular dengan insektisida anorganik harus dilakukan secara rasional berdasarkan hasil monitoring agar penggunaannya efisien dan sedikit mungkin berdampak buruk pada lingkungan. Pengendalian serangga penular secara hayati menggunakan insektisida nabati, bio-insektisida atau patogen serangga tidak dapat disamakan dengan pengendalian insektisida anorganik. Pengendalian hayati dimulai sejak ditemukan serangga penular dan dilakukan berulang secara periodik sampai stadia rentan tanaman terhadap infeksi tungro terlewati. Strategi dan taktik pengendalian yang direkomendasikan pada kondisi lapangan sebagai berikut:

  1. 1. Tanam Serentak

Hamparan sawah disebut tanam serentak adalah apabila minimal pada luasan 20 ha dijumpai stadia tanaman yang hampir seragam. Sumber serangan adalah tanaman musim sebelumnya yang terinfeksi virus pada saat tanaman umur 6-8 MST dengan intensitas serangan lebih dari 1%. Sumber migran dapat dari lapangan yang bersangkutan dan atau dari hamparan baik dari dalam petakan maupun galengan yang ditumbuhi rumput dan terdapat spesies wereng hijau lainnya selain N. virescens terutama N. nigropictus.

  1. 2. Eradikasi Sumber Inokulum

Tanah segera diolah untuk mencegah adanya sumber inokulum pada singgang atau voluntir. Bila mungkin tanam padi dengan cara tabur benih langsung (tabela) menggunakan alat-tabela setelah petakan dibersihkan dan diratakan.

  1. 3. Varietas Tahan

Varietas tahan tungro yang telah dilepas dapat digolongkan menjadi varietas tahan wereng hijau (vektor) dan varietas tahan virus tungro. Varietas tahan wereng hijau yang telah dilepas beragam sumber tetua tahannya namun beragam juga mutunya. Di samping itu, untuk daerah endemik di Nusa Tenggara Barat wereng hijau telah beradaptasi (efektif menularkan tungro) untuk semua golongan varietas tahan wereng hijau. Varietas tahan wereng hijau digolongkan menjadi T0-T4 berdasarkan sumber tetua tahannya.

  1. 4. Waktu tanam tepat

Tanaman padi peka terhadap infeksi tungro sampai umur 45 HST. Usahakan menghindari infeksi pada periode tersebut dengan mengatur waktu tanam. Waktu tanam yang tepat dapat ditentukan dengan mengetahui fluktuasi bulanan kerapatan populasi wereng hijau dan intensitas tungro. Atur waktu tanam agar saat terjadi puncak kerapatan populasi dan intensitas tungro, tanaman telah berumur lebih dari 45 HST.

  1. 5. Konservasi musuh alami dan pengendalian hayati

Pematang dibersihkan setelah tanaman umur 30 HST bila tidak terdapat rerumputan inang, atau pematang yang telah dibersihkan diberi mulsa sebagai tempatnya berlindung musuh alami, terutama pemangsa. Pengendalian tungro dengan insektisida nabati seperti Sambilata atau Mimba dan patogen serangga seperti Metharizium harus dilakukan dini sejak tanaman umur 2 MST dan diulang secara periodik minimal seminggu sekali sampai tanaman padi melewati fase rentan infeksi (45 MST), sebab secara alamiah umumnya perkembangan musuh alami terlambat dibanding wereng hijau.

  1. 6. Monitoring ancaman di pesemaian

Pemantauan wereng hijau di pesemaian dilakukan dengan jaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi kerapatan populasi wereng hijau. Di samping itu juga perlu dilakukan uji iodium untuk mengetahui intensitas tungro pada 20 daun padi 15 hari setelah sebar. Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan persentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75, maka pertanaman terancam tungro dan lakukan pengendalian dengan insektisida anorganik untuk menekan kerapatan populasi imago migran infektif.

  1. 7. Tanam sistem legowo

Penanaman dengan cara legowo dua baris atau empat baris dapat menekan pemencaran wereng hijau sehingga mengurangi penularan tungro. apabila ada satu gejala tungro dari 1.000 rumpun tanaman saat berumur 3 MST tanaman terancam. Cabut tanaman bergejala segera lakukan pengendalian kuratif dengan insektisida anorganik. Apabila berdasarkan hasil pemantauan saat tanaman muda diketahui tanaman terancam, maka vektor perlu segera dikendalikan dengan insektisida anorganik yang mempunyai kemampuan membunuh cepat seperti insektisida dengan bahan aktif imidacloprid, tiametoksan, etofenproks, atau karbofuran.

  1. 8. Mengurangi pemencaran vektor

Kondisi air sawah tetap dijaga pada kapasitas lapang, sebab sawah yang kering memicu pemencaran wereng hijau, sehingga memperluas penyebaran tungro.

  1. 9. Perbaikan pola tanam

Pada jangka menengah dan jangka panjang usahakan menanam palawija diantara musim tanam padi atau tanam palawija di pematang sebagai tempat berlindung musuh alami.

PEMBAHASAN

Penyakit-penyakit yang menyerang tanaman padi rata-rata menyebabkan kehilangan hasil antara 5-90%, bahkan pada kondisi lingkungan yang mendukung tingkat keparahan penyakit tersebut dapat meningkat dan menyebabkan puso (gagal panen). Kebanyakan penyakit yang menyerang tanaman padi deisebabkan oleh perilaku budidaya manusia yang terlalu banyak menggunakan pupuk nitrogen (N) tanpa diimbangi dengan pupuk kalium (K) dan Fosfat (P).

Untuk penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) yang disebabkan oleh patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae, terjadi pada musim hujan atau musim kemarau yang basah, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang, dan dipupuk N tinggi (> 250 kg urea/ha). HDB merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil sampai 36%. Gejala yang dirimbulkan Penyakit HDB menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar selain itu daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Untuk mengurangi penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan cara penanganan bibit secara baik saat  tanam pindah, pengairan dangkal pada persemaian, dan membuat drainase yang baik ketika genangan tinggi.

Semula penyakit blas dikenal sebagai salah satu kendala utama pada padi gogo, tetapi sejak akhir 1980-an, penyakit ini juga sudah terdapat pada padi sawah beirigasi. Penyakit yang mampu menurunkan hasil yang sangat besar ini disebabkan oleh cendawan patogen Pyricularia oryzae. Penyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun dan blas leher. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman, berbentuk belah ketupat, dengan pusat bercak berwarna putih. Sedangkan blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah. Cuaca yang lembab, bahkan yang sangat kering dapat merangsang infeksi. Sebaliknya tanah yang cukup lembab, akibat dari adanya irigasi dapat menahan penularan. Penyakit ini dikendalikan melalui penanaman varietas tahan secara bergantian untuk mengantisipasi perubahan ras cendawan blas yang sangat cepat dan pemupukan NPK yang tepat dan seimbang. Penanaman dalam waktu yang tepat serta perlakuan benih dapat pula diupayakan. Bila diperlukan, dapat dipakai fungisida yang berbahan aktif metil tiofanat, fosdifen, atau kasugamisin.

Hawar pelepah, merupakan penyakit penting pada tanaman padi yang disebabkan oleh patogen Rhizoctonia solani. Penyakit ini menyebabkan gabah kurang terisi penuh atau bahkan hampa. Hawar pelepah terjadi umumnya saat tanaman mulai membentuk anakan sampai menjelang panen. Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan pengaturan jarak pertanaman di lapang agar jangan terlalu rapat, keringkan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum, bajak yang dalam untuk mengubur sisa-sisa tanaman yang terinfeksi, merotasi tanaman dengan kacang-kacangan untuk menurunkan serangan penyakit, membuang gulma dan tanaman yang sakit dari sawah, gunakan fungisida (bila diperlukan) antara lain yang berbahan aktif heksakonazol, karbendazim, tebukanazol, belerang, flutalonil, difenokonazol, propikonazol, atau validamisin A.

Busuk batang merupakan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman dalam kanopi dan menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah. Penyakit ini disebabkan oleh patogen Helminthosporium sigmoideum dan menyebabkan kehilangan hasil mencapai 80%. Gejala awal berupa bercak berwarna kehitaman, bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar. Akhirnya, cendawan menembus batang padi yang kemudian menjadi lemah, anakan mati, dan akibatnya tanaman rebah. Untuk mengamati penyakit ini, kanopi pertanaman perlu dibuka. Perlu diwaspadai apabila terjadi kerebahan pada pertanaman, tanpa sebelumnya terjadi hujan atau hujan dengan angin yang kencang. Cara pencegahan penyakit ini antara lain adalah dengan membakar tunggul-tunggul padi sesudah panen atau didekomposisi, mengeringkan petakan dan biarkan tanah sampai retak sebelum diari kembali gunakan pemupukan berimbang, melakukan pemupukan nitrogen sesuai anjuran dan pemupukan kalium cenderung dapat menurunkan infeksi penyakit, menggunakan fungisida (bila diperlukan) yang berbahan aktif belerang atau difenokonazol.

Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada padi sangat merusak dan tersebar luas. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Tungro Padi (VTP). Bergantung pada umur saat tanaman terinfeksi, tungro dapat menyebabkan kehilangan hasil 5-70%. Gejala serangan tungro yang menonjol adalah perubahan warna daun dan tanaman tumbuh kerdil. Warna daun tanaman sakit bervariasi dari sedikit menguning sampai jingga. Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau dan dapat dikendalikan melalui pergiliran varietas tahan yang memiliki tetua berbeda, pengaturan waktu tanam,sanitasi dengan menghilangkan sumber tanaman sakit, dan penekanan populasi wereng hijau dengan insektisida dengan bahan aktif imidacloprid, tiametoksan, etofenproks, atau karbofuran.

Dari kelima penyakit tersebut yang paling susah dalam pengendaliannya adalah penyakit busuk batang. Sedangkan penyakit yang menyebabkan kehilangan hasil terbanyak adalah penyakit blas. Penyakit yang paling umum ditemukan pada tanaman padi yaitu penyakit hawar daun bakteri atau kresek. Namun secara keseluruhan, pemupukan dengan pupuk nitrogen (N) yang berlebih tanpa diimbangi pupuk kalium (K) dan fosfat (P) dapat membuat tanaman menjadi semakin sekulen dan rentan terhadap berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 90% atau bahkan gagal panen. Strategi pengendalian yang umum untuk semua penyakit yaitu dengan membersihkan sisa tanaman dan pengolahan tanah yang optimal. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperkecil tersedianya inokulum patogen yang dapat menyerang pada pertanaman selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

(Anonim) www.arbvs.pt [diakses tanggal 13 Mei 2010]

(Anonim) www.bbpadi.litbang.deptan.go.id [diakses tanggal 4 April 2010]

(Anonim) www.knowledgebank.irri.org [diakses tanggal 4 April 2010]

(Anonim) www.lolittungro.litbang.deptan.go.id [diakses tanggal 4 April 2010]

(Anonim) www.puslittan.bogor.net [diakses tanggal 4 April 2010]

(Anonim) www.pustaka-deptan.go.id [diakses tanggal 4 April 2010]

(Anonim) www.sripoku.com [diakses tanggal 13 Mei 2010]

Agrios George N.2005. Plant Pathology Fifth Edition. Florida: Elsevier Academic Press.

Compandium Of Rice Deseases

Djafaruddin, Prof. Ir. 2008. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Mat Akin, Hasriadi. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Mehrotra, R.S and Aggarwal, Ashok. Plant Pathology Second Edition. 2003. New Delhi: The McGraw-Hill Companies.


Actions

Informations